Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menikmati Obrolan Hangat Di Bawah Tenda Angkringan Jogja

 


Tempatnya yang hanya terbuat dari tenda kecil dengan gerobak kayu didalamnya terlihat kurang nyaman  dan terlihat mengganggu pemandangan karena lokasinya berada di depan lokasi perkantoran atau bahkan trotoar jalan. Akan tetapi, meskipun begitu angkringan tetap punyak penikmat dan hal spesial yang membuat orang - orang tak pernah meninggalkannya.

Menurut sejarah, asal muasal dari angkringanadalah berawal dari sebuah desa bernama Cawas di Kabupaten Klaten. Angkringan yang awalnya adalah konsep berjualan makanan dengan cara dipikul, kini sudah populer dengan warung tenda dengan gerobak dorong kayu. Konsep "Ngangkring" dan angkringan akhirnya merambah dan menjadi identik dengan Jogja.

Konsep menu yang sejak dahulu disajikan di angkringan pun masih tetap dipertahankan, yaitu menu yang porsinya sedikit namun bervariatif. Biasanya menu yang tersaji di angkringan adalah nasi kucing, gorengan, dan berbagai variasi sate yang disediakan. Dan juga tentunya yang menjadi ikon angkringan sampai saat ini adalah wedangannya, seperti wedang jahe dan juga kopi joss yang tersedia di beberapa angkringan.

Banyak yang bilang angkringan adalah tempat yang murah untuk mengisi kekosongan perut kita. Hal itu tak sepenuhnya salah dan tak sepenuhnya benar juga. Jika dilihat dari harga per varian yang tersedia di angkringan, memang terkesan sangat murah. Karena untuk harga satu bungkus nasi hanya sekitar dua ribu rupiah dan juga sate - sateannya bervariasi dan biasanya tak sampe 3 ribu untuk satu tusuknya. Akan tetapi sepengalaman saya, semurah murahnya saya makan di angkringan minimal saya habis 10 ribu rupiah untuk 2 porsi nasi kucing yang mini itu,  2 buah sate serta segelas jahe wangi panas. Mungkin ini terlihat murah untuk para orang pendatang luar Jogja. Namun harga tersebut terasa mahal jika dilihat porsi dan variasi makanan yang kita nikmati sedikit sekali. Memang harganya makanan di angkringan sangat murah, berkisar Rp. 1.000 - 3.000 saja. Tapi dengan porsi yang mini dan juga sedikit akhirnya membuat kita mengambilnya lebih dari satu item saja. Hal ini bisa dilihat jika dibandingkan kalian makan di warteg atau warung padang, dengan uang yang sama kalian bisa mendapat porsi yang lebih banyak dan lengkap dengan sayur dan juga lauk, bahkan tak jarang yang sudah dapat minum pula.

Namun menurut saya jika tujuan kalian datang ke angkringan untuk makan kenyang dengan harga murah, kalian kurang tepat. Kenikmatan dan juga suasana yang kalian dapat di angkringan akan terasa lebih menarik hati untuk kita datang ke sebuah angkringan. Sensasi menikmati sebungkus nasi sambal teri beserta sate usus di tangan dan juga segelas wedang jahe sambil menikmati padatnya suasana jalanan Jogja dimalam hari menambah kesyahduan malam malam kalian di Jogja. Apalagi kalian bisa melihat secara langsung sang empunya angkringan yang meracik minuman langsung didepan kalian. Sampai tak terasa sudah menghabiskan beberapa bungkus nasi dan juga banyak tusuk sate hingga harus membayar dengan lumayan mahal, akan tetapi tak menjadi sebuah permasalahan dengan hal itu.

Melepas penat sehabis beraktifitas seharian dan berbincang ringan dengan rekan sejawat di angkringan menjadi nilai tersendiri. Tak ada sosok jaim di angkringan, semisal sering saya melihat mahasiswa atau mahasiswi UGM yang penampilannya rapi nan klimis tampak sering nongkrong di sebuah angkringan. Tak sedikitpun kehilangan paras ayunya ketika melihat seorang mahasiswi yang makan di angkringan dengan sangat lahap.

Walaupun kini banyak konsep angkringan modern yang bermunculan, akan tetapi angkringan tenda dengan gerobak didalamnya menjadi primadona didalamnya. Tak jarang obrolan yang berasal dari beberapa orang yang tidak kenal sebelumnya dan terdengar perbincangan hangat di sebuah angkringan. Entah apa yang menjadi bahan obrolan, akan tetapi semua menjadi terasa hangat dan nyambung - nyambung saja. Bahkan tak jarang yang akhirnya menjadi teman akrab di kemudian hari. Ada yang bilang, obrolan ringan nan hangat akan selalu beriringan dengan keberadaan angkringan. Tak peduli harus kenal dahulu, angkringan selalu menjadi tempat paling tepat untuk melakukan fungsi utama kita sebagai makhluk sosial.

Yaps, ditengah laju perkembangan zaman yang hampir " membunuh segala hal yang berbau tradisional, angkringan justru bertahan dengan eksis di dalamnya. Sensasi dan juga keakraban lain yang hadir ketika menikmati sebungkus nasi kucing ditemani dengan segelas jahe hangat dan juga sebatang rokok yang menyala diantara jepitan dua jari. Dan juga tentunya diiringi dengan obrolan- obrolan ringan diatas kursi dan meja kayu angkringan menambah kehangatan obrolan saat itu. Terlihat agak berlebihan memang, tapi nyatanya memang itulah yang terjadi ketika berbicara soal angkringan, obrolan hangat dan keakraban.

Posting Komentar untuk "Menikmati Obrolan Hangat Di Bawah Tenda Angkringan Jogja "